Sultan Agung
“Ambisi Menjadi Raja di Seluruh Jawa”
Di bawah kepemimpinan Sultan Agung Kerajaan Mataram mencapai puncak
kejayaan dan kebesarannya. Siapa yang tidak mengenal kegigihan Sultan
Agung menggempur VOC di Batavia? Namun beberapa kalangan beranggapan
bahwa niat utama Sultan Agung bukanlah untuk mengusir penjajah VOC,
tetapi untuk menjadi raja di seluruh Jawa. Sultan Agung yang nama
aslinya adalah Raden Mas Jatmika atau juga dikenal sebutan raden Mas
Rangsang dilahirkan pada tahun 1593. Ia merupakan putra sulung dari
pasangan prabu Hanyo krowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya
adalah raja kedua Mataram sedangkan ibunya merupakan putrid pangeran
Benawa, Raja Pajang.Sultan Agung merupakan raja ke III dari Kesultanan
Mataram yang memerintah dari tahun 1613-1646 dan berkedudukan di
Kartasura. Pada masa awal pemerintahannya, Mas Rangsang bergelar
Penembahan Agung. Kemudian setelah menaklukkan Madura tahun 1624, ia
mengganti gelar menjadi Susuhunan Agung, atau disingkat Sunan Agung.
Sultan Agung mempunyai dua orang permaisuri. Sultan agung naik tahta
pada tahun 1613 dalam usia muda yaitu pada usia 20 tahun. Semasa
pemerintahannya berhasil memperluas wilayah Mataram sampai hampi
rmencakup seluruh pulau Jawa. Namun saingan besar Mataram saat itu
tetaplah Surabaya dan Banten. Dalam perjalannya yakni pada tahun 1614,
Sultan Agung mulai mengirim pasukan untuk menaklukkan sekutu Surabaya,
yaitu Lumajang. Pihak Surabaya pun mencoba membalas. Kemenangan Sultan
Agung berlanjut di lasem, Pembang dan Pasuruan tahun 1616. Di sela-sela
usaha dalam upaya menaklukkan Surabaya, pada tahun 1619 Belanda
berhasil merebut Sunda Kelapa pun dipindah ke kota itu. Sebagai taktik
untuk menaklukkan Surabaya, Sultan Agung kemudian mengirim Tumenggung
Bahurekso yang juga bupati Kendal untuk menaklukkan Sukadana (Kalimantan
sebelah Barat Daya) pada tahun 1622. Berhasil direbutnya Sukadana dan
Madura membuat posisi Surabaya menjadi lemah karena suplai pangan
terputus sama sekali. Pasca penaklukkan Surabaya, keadaan Mataram belum
juga tentram. Dalam upaya ekspansi selanjutnya, Banten adalah sasaran
Mataram setelah Surabaya jatuh. Maka, pada bulan Agustus 1628 pasukan
Mataram dipimpin Tumenggung Bahurekso, bupati Kendal tiba di Batavia.
Untuk kedua kalinya, Sultan Agung kembali menyerang Batavia. Akan tetapi
Sultan Agung pantang menyerah. Dampak dari kekalahan di Batavia
menyebabkan daerah-daerah bawahan Mataram berani memberontak untuk
merdeka. Disusul kemudian pemberontakan Giri Kedaton. Usaha memperluas
daerah Matam terus dilakukan dimana pada tahun 1636 Sultan agung
mengirim Pangeran Silorang untuk menaklukkan Blambangan di ujung Timur.
Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang
dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan. Beberapa kalangan
sejarawan mengatakan pada masa pemerintahannya, Sultan Agung melakukan
politik represif terhadap kadipaten-kadipaten di wilayah pesisir Jawabah
kandi kenal anti perniagaan. Pada masa Sultan Agung, budaya yang
dikembangkan di Jawa menurut para sejarawan Indonesia kontemporer adalah
budaya pedalaman Jawa yang berciri kejawen, feudal dan berbaumistik.
Para sejarawan dan budayawan Sunda menyatakan sejak Sultan Agung
menguasai daerah-daerah Priangan di Jawa Barat kecuali daerah kesultanan
Banten. Sultan Agung juga menaruh perhatian pada kebudayaan yakni
dengan memadukan budaya Islam dengan kebudayaan Jawa bahkan kebudayaan
Jawa pra Islam. Secara umum dikenal bahwa pada masa pemerintahan Sultan
Agung Kesultanan Mataram mencapai masa puncak kejayaan. Ada kalangan
yang berpendapat bahwa niat utama Sultan Agung bukanlah untuk mengusir
penjajah VOC, tetapi untuk menjadi raja di seluruh wilayah Jawa. Namun
untuk mencapai Banten, ada Batavia yang dikuasain VOC. Setidaknya ada
beberapa peristiwa yang dianggap sebagai bukti bahwa niat Sultan Agung
adalah untuk menjadi raja Jawa, dan bukan murni melawan VOC. Setidaknya
ada beberapa peristiwa yang dianggap sebagai bukti bahwa niat Sultan
Agung adalah untuk menjadi raja Jawa, dan bukan murni melawan VOC. Hal
ini terlihat dimana Sultan Agung menghabiskan bahwa waktu dan tenaga
melakukan ekspansi kearah timur dan utara Jawa. Dalam misi penyerangan
pertama ke Batavia, Sultan Agung menyuruh Adipati Rangga Gempol dari
Sumedang Larang untuk membantu pasukan mataram. Kemudia Sultan Agung
mengangkat Adipati Ukur, dari bayumas, untuk menggantikan rangga Gempol.
Karena kegagalan ini Adipati Ukur ditangkap Sultan Agung, dan dihukum
mati oleh tangan Sultan Agung sendiri dengan cara ditusuk perutnya
dengan keris Adipati Ukur sendiri. Ada pihak yang mengatakan dari
kejadian inilah ada istilah dalam bahasa Sunda yang dinamakan
“ambekjaweun” (marahala orang Jawa) yakni suatu kemarahan yang
eksploisif dan destruktif. Sultan Agung dikenal kontroversi karena
kekejamannya. Sementara serangan ke Giri sendiri melenyapkan kekuatan
dakwah yang telah berjasa mengajarkan Islam sampai ke daerah Indonesia
Timur. Dalam seranganke Madura ribuan orang Madura tewas dan diusir
keluar dari pulau Madura. Sultan Agungmerupakan tokoh yang kontroversial
di mata banyak kalangan. Mirip cerita baratayudha dimana Bisma dan
kelima Pandawa seperti kakek dan cucu yang saling menyayangi namun
ketika tugas menunggu mereka mengorbankan segalanya termasuk nyawa demi
pandangan yang diyakini kebenarannya masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar