Senin, 25 Januari 2016

Sejarah singkat sultan agung


Sultan Agung H
Sultan Agung
“Ambisi Menjadi Raja di Seluruh Jawa”
Di bawah kepemimpinan Sultan Agung Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan dan kebesarannya. Siapa yang tidak mengenal kegigihan Sultan Agung menggempur VOC di Batavia? Namun beberapa kalangan beranggapan bahwa niat utama Sultan Agung bukanlah untuk mengusir penjajah VOC, tetapi untuk menjadi  raja di seluruh Jawa. Sultan Agung yang nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika atau juga dikenal sebutan raden Mas Rangsang dilahirkan pada tahun  1593. Ia merupakan putra sulung dari pasangan prabu Hanyo krowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati.  Ayahnya adalah raja kedua Mataram sedangkan ibunya merupakan putrid pangeran Benawa, Raja Pajang.Sultan Agung merupakan raja ke III dari Kesultanan Mataram yang memerintah dari tahun 1613-1646 dan berkedudukan di Kartasura. Pada masa awal pemerintahannya, Mas Rangsang bergelar Penembahan Agung. Kemudian setelah menaklukkan  Madura tahun 1624, ia mengganti gelar menjadi Susuhunan Agung, atau disingkat Sunan Agung. Sultan Agung mempunyai dua orang permaisuri. Sultan agung naik tahta pada tahun 1613 dalam usia muda yaitu pada usia 20 tahun. Semasa pemerintahannya berhasil memperluas wilayah Mataram sampai hampi rmencakup seluruh pulau Jawa. Namun saingan besar Mataram saat itu tetaplah Surabaya dan Banten. Dalam perjalannya yakni pada tahun 1614, Sultan Agung mulai mengirim pasukan untuk menaklukkan sekutu Surabaya, yaitu Lumajang. Pihak Surabaya pun mencoba membalas. Kemenangan Sultan Agung berlanjut di lasem,  Pembang dan Pasuruan tahun 1616. Di sela-sela usaha dalam upaya menaklukkan Surabaya,  pada tahun 1619 Belanda berhasil merebut Sunda Kelapa pun dipindah ke kota itu. Sebagai taktik untuk menaklukkan Surabaya, Sultan Agung kemudian mengirim Tumenggung Bahurekso yang juga bupati Kendal untuk menaklukkan Sukadana (Kalimantan sebelah Barat Daya) pada tahun 1622. Berhasil direbutnya Sukadana dan Madura membuat posisi Surabaya menjadi lemah karena suplai pangan terputus sama sekali. Pasca penaklukkan Surabaya, keadaan Mataram belum juga tentram. Dalam upaya ekspansi selanjutnya, Banten adalah sasaran Mataram setelah Surabaya jatuh. Maka, pada bulan Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Bahurekso, bupati Kendal tiba di Batavia. Untuk kedua kalinya, Sultan Agung kembali menyerang Batavia. Akan tetapi Sultan Agung pantang menyerah. Dampak dari kekalahan di Batavia menyebabkan daerah-daerah bawahan Mataram berani memberontak untuk merdeka. Disusul kemudian pemberontakan Giri Kedaton. Usaha memperluas daerah Matam terus dilakukan dimana pada tahun 1636 Sultan agung mengirim Pangeran Silorang untuk menaklukkan Blambangan di ujung Timur. Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan. Beberapa kalangan sejarawan mengatakan pada masa pemerintahannya, Sultan Agung melakukan politik represif terhadap kadipaten-kadipaten di wilayah pesisir Jawabah kandi kenal anti perniagaan. Pada masa Sultan Agung,  budaya yang dikembangkan di Jawa menurut para sejarawan Indonesia kontemporer adalah budaya pedalaman Jawa yang berciri kejawen, feudal dan berbaumistik. Para sejarawan dan budayawan Sunda menyatakan sejak Sultan Agung menguasai daerah-daerah Priangan di Jawa Barat kecuali daerah kesultanan Banten. Sultan Agung juga menaruh perhatian pada kebudayaan yakni dengan memadukan budaya Islam dengan kebudayaan Jawa bahkan kebudayaan Jawa pra Islam. Secara umum dikenal bahwa pada masa pemerintahan Sultan Agung Kesultanan Mataram mencapai masa puncak kejayaan. Ada kalangan yang berpendapat bahwa niat utama Sultan Agung bukanlah untuk mengusir penjajah VOC, tetapi untuk menjadi raja di seluruh wilayah Jawa. Namun untuk mencapai Banten, ada Batavia yang dikuasain VOC. Setidaknya ada beberapa peristiwa yang dianggap sebagai bukti bahwa niat Sultan Agung adalah untuk menjadi raja Jawa, dan bukan murni melawan VOC. Setidaknya ada beberapa peristiwa yang dianggap sebagai bukti bahwa niat Sultan Agung adalah untuk menjadi raja Jawa, dan bukan murni melawan VOC. Hal ini terlihat dimana Sultan Agung menghabiskan bahwa waktu dan tenaga melakukan ekspansi kearah timur dan utara Jawa. Dalam misi penyerangan pertama ke Batavia, Sultan Agung menyuruh Adipati Rangga Gempol dari Sumedang Larang untuk membantu pasukan mataram. Kemudia Sultan Agung mengangkat Adipati Ukur, dari bayumas, untuk menggantikan rangga Gempol. Karena kegagalan ini Adipati Ukur ditangkap Sultan Agung, dan dihukum mati oleh tangan Sultan Agung sendiri dengan cara ditusuk perutnya dengan keris Adipati Ukur sendiri. Ada pihak yang mengatakan dari kejadian inilah ada istilah dalam bahasa Sunda yang dinamakan “ambekjaweun” (marahala orang Jawa) yakni suatu kemarahan yang eksploisif dan destruktif. Sultan Agung dikenal kontroversi karena kekejamannya. Sementara serangan ke Giri sendiri melenyapkan kekuatan dakwah yang telah berjasa mengajarkan Islam sampai ke daerah Indonesia Timur. Dalam seranganke Madura ribuan orang Madura tewas dan diusir keluar dari pulau Madura. Sultan Agungmerupakan tokoh yang kontroversial di mata banyak kalangan. Mirip cerita baratayudha dimana Bisma dan kelima Pandawa seperti kakek dan cucu yang saling menyayangi namun ketika tugas menunggu mereka mengorbankan segalanya termasuk nyawa demi pandangan yang diyakini kebenarannya masing-masing.